Workshop IAPS 4.0 FISIP UTU Bahas Kewirausahaan Kopi di Tanah Gayo
  • UTU News
  • 08. 05. 2019
  • 0
  • 161

MEULABOH – Pelaksanaan Workshop Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 4.0 dan SPMF yang dilakukan jajaran FISIP-Universitas Teuku Umar (UTU), di Tanah Gayo, juga menghadirkan narasumber, Hadian Wijaya, Ph.D, dengan materi kewirausahaan.  Workshop IAPS 4.0 yang dibuka oleh Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Dr. H. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA, berlangsung  dua hari, 19-20 April 2019, di Hotel Bayu Hill Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Kegiatan workshop IAPS 4.0 pada sesi panel pemaparan narasumber Hadian Wijaya dan Wakil Rektor III UTU, Dr. Mursyidin, MA yang dipandu oleh Wakil Dekan I Fisip UTU, Sudarman Alwy, M.Ag, dilanjutkan dengan diskusi dan Tanya jawab.

Peserta workshop IAPS 4.0 adalah dosen dan mahasiswa FISIP UTU. Kegiatan workshop juga dihadiri Wakil Rektor I Dr. Alfizar, DAA, Dekan FISIP, Basri, SH.,MH, Kepala Biro Umum dan Keuangan, Mawardi Amin, SE.,Ak, Kepala Bagian Akademik, Husni Mubarak, SH, Wakil Dekan I Fisip, Sudarman Alwy, M. Ag, Wakil Dekan II Fisip, Nillis Mardhiah, M.Sc, Kepala Tata Usaha Fisip, Raflizar, S.STP, M.Si, Kasubbag Umum dan Keuangan Fisip, Muhammad Idris, M.Pd,  Ketua Prodi Ilmu Hukum, Nila Trisna, SH.,MH, Apri Rotin Djusfi, SH.,MH, Irsadi Aristora, SH.,MH

Hadian Wijaya yang juga Dosen Universitas Malahayati Bandar Lampung mengatakan, peluang bisnis dengan memiliki pondasi yang kuat akan mudah membangun dan menjalankan bisnisnya dengan baik. Demikian juga halnya dengan modal. Berbicara modal dalam berusaha bukan yang lebih utama. “Jangan terpaku dengan dana. Dalam berusaha dan berbisnis itu yang utama adalah relasi. Modal yang kecl, tapi usahanya bisa berkembang”.

Hadian Waijaya menyampaikan, penghasil kopi arabika di Tanah Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, terbesar di Indonesia. Kopi arabika kualitas ekspor dari Tanah Gayo ke luar negeri sangat besar, bahkan sampai 80 persen peredaran uang digunakan untuk ekspor kopi.

“Di Indonesia ini lahan kebun kopi arabika mencapai 200 ribu hektar, setangah lebih dari luasnya kebun kopi tersebut ada di Takengon, dengan luas area mncanpai 105 ribu hektar. Penghasil Kopi di Brasil dengan Negara Uruguai dicampur dengan kopi arabika gayo, menjadi lebih mahal harganya karena aromanya yang wangi”, ujar Hadian Wijaya, yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidang riset kopi

Dikutip dari berbagai sumber, jenis kopi arabika yang popular di Indonesia adalah Kopi Gayo, di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Toraja, Wamena, bebarapa kopi Bali dan Flores, bahkan sekarang banyak bermunculan adalah kopi-kopi arabika dari dataran tinggi di Pulau Jawa seperti Jawa Barat dan Banyuwangi di daerah Gunung Raung.

Kopi arabika dulu banyak dikembangkan di Barsil dan Ethiopia, namun kini berbagai belahan dunia, orang menanam dan mengembangkan kopi arabika. Bahkan, sekarang produknya lebih banyak, yakni lebih dari 70 persen pasar kopi dunia.

Sementara itu, Dr. Mursyidin, MA yang menyampaikan materi dengan judul “Kinerja Ormawa Sebagai Tolak Ukur Perangkingan Kampus”, antara lain menjelaskan, fungsi ormawa, parameter penilaian perangkingan kampus, pertukaran mahasiswa,  membuat program tentang masalah penanganan kebencanaan, pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.  Pertukaran mahasiswa adalah diperlukan adanya kemampuan bahasa dan punya prestasi dengan seleksi yang ketat. (zakir)

Lainnya :