Wisuda UTU Ke-9 Digelar, Delapan Sarjana Lulus Cumlaude
  • UTU News
  • 10. 11. 2018
  • 0
  • 520

MEULABOH –  Pelaksanaan Wisuda Ke-9 Universitas Teuku Umar (UTU) tahun 2018, berjalan sukses. Prosesi wisuda yang berlangsung 10 November 2018 itu, Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA langsung mengumumkan delapan orang sarjana lulus cumlaude (terpuji) dengan IPK tertinggi tingkat universitas.

Prof. Jasman dalam pidato sebelum ‘melantik’ para wisudawan menyampaikan,  sebanyak 508 orang lulusan UTU tahun 2018 diwisuda. Adapun fakultas yang paling banyak menghasilkan lulusan kali ini adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat yakni sebanyak 146 orang, disusul Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan jumlah lulusan sebanyak 123 orang, Fakultas Pertanian sebanyak 81 lulusan. Kemudian  Fakultas Ekonomi 78 orang, Fakultas Teknik 58 lulusan dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan sebanyak 22 orang.

Ditinjau dari segi katagori kelulusan dapat disampaikan bahwa, lebih separuh (275 orang) diantaranya lulus dengan kategori predikat sangat memuaskan(51,13%). Sementara itu, katagori dengan predikat memuaskan sebanyak 162 orang (31,89 %), dan yang lulus dengan katagori predikat cumlaude sebanyak 71 orang atau 13,98 %.

Prof. Jasman menyebutkan, secara keseluruhan lulusan UTU selama sembilan kali wisuda, alumni UTU sudah mencapai 3.749 sarjana. Dengan rincian, lulusan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) 1.088 alumni, Prodi Ekonomi pembangunan mencapai 538 alumni, Prodi Agroteknologi 474 alumni, Prodi Administrasi Negara 427 alumni, Prodi Agribisnis 289 alumni, Prodi Sosiologi 165 alumni, Prodi Komunikasi 130 alumni, Prodi Teknik Mesin 97 alumni, Prodi Teknik Industri 70 alumni. “Lulusan sarjana itu merupakan salah satu wujud dan bentuk tanggungjawab UTU kepada bangsa dan Negara, sekaligus wujud karya UTU”, ujar Prof. Jasman.  

Wisuda ke-9 ini menghasilkan lulusan cumlaude (pujian) 69 orang. Dari jumlah sebanyak itu, delapan lulusan yang memiliki IPK tertinggi dari masing-masing Program Studi yaitu Widya Novpriani (IPK 3,91 dari Fakultas Ekonomi), Ovi Diana Masyithah (IPK 3,80 dari FKM), Balqis Fahira Ningrum (IPK 3,79 dari Fisip), Agus Muhajir (IPK 3,79 dari Fisip), Heri Safrizal (IPK 3,78 dari Fakultas Teknik), Anggi Liani (IPK 3,77 dari Fakultas Pertanian), Winda Trisniawati (IPK 3,72 dari Fisip), dan Lario Saunabellata (IPK 3,70 dari Fakultas Perikanan).

“Bagi yang memiliki IPK tertinggi, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya. Cumlaude ini menjadi modal dasar bagi masa depan Anda. Namun, IPK tinggi tidak menjamin meraih kesuksesan dalam kehidupan nyata”, ujar Prof. Jasman.

Prof. Jasman mengingatkan, lulusan sarjana yang hari ini diwisuda tentu akan berhadapan dengan kondisi ekonomi yang kurang stabil, di mana kita melihat jumlah pengangguran terbuka yang semakin melebar. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyatakan bahwa tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016 mencapai 7,02 juta orang atau 5,5 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Suryamin juga menjelaskan bahwa, ditinjau dari taraf pendidikannya presentasi lulusan sekolah dasar kebawah yang menganggur menurun, yakni dari 3,61 persen menjadi 3,4 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran lulusan universitas meningkat dari 5,34 persen menjadi 6,2 persen.

Dari perspektif lain, kita melihat justru impor komoditi dari luar negeri untuk sektor pangan terus meningkat. Pada tahun 2014 saja jumlah pangan yang diimpor mencapai 11 milliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan 140 triliun rupiah. Seperti kita ketahui bahan pangan yang diimpor tersebut merupakan komoditi yang sebenarnya dapat kita hasilkan sendiri seperti jagung, kacang, singkong, tomat, bawang, dan lain sebagainya. Adalah ironis, pengangguran terus meningkat sementara sesuatu yang bisa kita hasilkan malah semakin banyak diimpor dari luar negeri. Sungguh negeri kita telah dijajah secara ekonomi di sektor pangan ini. Kita butuh pejuang yang secara sungguh-sungguh berjuang melawan penjajahan ekonomi ini. Kita berharap wisudawan UTU harus menjadi pionir dengan semangat juang Teuku Umar untuk melawan penjajah ekonomi ini, sehingga nantinya negeri kita akan berdaulat dari sektor pangan dan sektor lainnya.

Dalam pidato arahan dan penyampaian pesan kepada lulusan, Prof. Jasman juga memberikan pandangan bernuansa islami terkait dengan usaha-usaha yang telah dilakukan. UTU berkewajiban melaksanakan riset dan mengembangkan budidaya dan hilirisasi dari buah-buahan yang disebutkan secara eksplisit dalam Alquran. “Agar efektif pelaksanaan riset dan pengembangan ini, perlu adanya entitas yang mengorganisasikannya. Entitas itu kita beri nama pusat riset pangan Qurani.

Setidaknya ada 6 buah-buahan yang disebutkan dalam Alquran yaitu kurma, anggur, tin, zaitun, delima dan pisang. Buah-buahan merupakan salah satu jenis makanan yang sangat disukai di dunia. “Alhamdulillah di Kampus UTU, pohon kurma sudah mulai kita tanam dan kita kembangkan”. Salah satu implementasi pusat riset dan pengembangan pangan Qurani, Bapak Menteri Ristekdikti, Gubernur Aceh, Setditjen  Kelembagaan Ristekdikti, Rektor Universitas Syiah Kuala, , Bupati Aceh Barat, Bupati Nagan Raya telah melakukan penanaman perdana pohon pisang di kebun koleksi pisang dunia, Bulan November 2017. “Saat ini kita di UTU telah memiliki 36 jenis koleksi pisang. Ke depan kita akan mengumpulkan jenis-jenis pisang untuk memperkaya jumlah koleksi pisang dari berbagai belahan nusantara dan dunia. Dalam waktu dekat Bapak Menteri akan bersedia ratusan jenis pisang dari berbagai belahan dunia dan kita telah mempersiapkan 10 hektar tanah untuk lahan koleksi pisang dunia”.

Diakhir pidato arahan dan penyampaian pesan kepada lulusan, Prof. Jasman mengilustrasikan, andai UTU adalah busur, maka Anda para alumni adalah anak panah yang meluncur dengan nama UTU pada dirimu. Kalian adalah duta UTU. Untuk itu, kami titipkan nama UTU. Karenanya, nilai-nilai kejujuran, kebenaran, keadilan, dan kejuangan seharusnya telah tertanam pada diri saudara. Cerminan dari itu, apabila digabung dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan semangat entrepreneurship adalah wujud kepahlawanan Teuku Umar pada masa kekinian. (Zakir)

Lainnya :