UTU Peroleh Sertifikat
  • UTU News
  • 25. 06. 2019
  • 0
  • 319

MEULABOH – “Kami Seluruh Keluarga Besar Universitas Teuku Umar (UTU) menyampaikan  ucapan terima kasih kepada Leader Academy Asia yang telah memberikan penghargaan dan sertifikat kepada kampus UTU atas inisiatif menerapkan program diet sampah. Semoga kegiatan program diet sampah dapat terus berjalan”.

Ucapan terima kasih itu disampaikan Ketua Dharma Wanita Persatuan-Universitas Teuku Umar (DWP-UTU), Ardawalis Binti Abdurrahman, mewakili seluruh keluarga besar UTU, usai memperoleh penghargaan berupa sertifikat program diet sampah yang diberikan oleh Let's Do It (LDI) Indonesia, pada 16 Juni 2019. 

Peroleh Sertifikat atas penghargaan penerapan program diet sampah di lingkungan UTU diterima  oleh Ishalyadi, SKM., M.Kes, Leader WCD (World Cleanup Day) Aceh, saat menghadiri program Leader Academy Asia dan Oceania yang dilaksanakan di Denpasar- Bali, pada 13-16 Juni 2019.

“Semoga penghargaan yang kami peroleh ini, akan membawa dampak positif kepada lingkungan sekitarnya, dengan harapan program ini juga bisa diterapkan diluar lingkungan kampus, khususnya di Meulaboh dan sekitarnya, agar kita bisa hidup dilingkungan yang sehat dan selalu mencintai bumi kita”, ujar Ardawalis mengharapkan.

Mengutip dari berbagai sumber, Ardawalis mengatakan, permasalahan sampah hingga kini masih menjadi masalah yang belum bisa terselesaikan. Pada tahun 2016, berdasarkan data KLHK dan Kementrian Industri dalam World Bank tercatat sebanyak 65 juta ton sampah tertimbun per tahun di Indonesia dengan total penduduk sebesar 261.115.456 orang dan diperkirakan akan terus semakin meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Demikian halnya, di Provinsi Aceh, pada tahun 2018 total jumlah sampah ditimbun di Tempat Pembungan Akhir (TPA) sampah sebanyak 334 ton/ hari. “Ini  berdasarkan data yang kita peroleh dari  enam kabupaten/kota”.  

Dari jumlah itu, sebanyak 14 % dari total sampah yaitu sampah plastik, dimana sampah anorganik tersebut ratusan tahun masih terurai sempurna di lingkungan. Dan berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 3.2 juta ton sampah plastik dibuang ke laut dan tentunya menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap biota laut maupun manusia. Bahkan dalam sebuah penilitian dari para peniliti di University of Exeter, Inggris, dijelaskan sampah plastik ini telah membunuh 1000 penyu laut setiap tahunnya.

Ardawalis menyebutkan, seluruh Sivitas Akademika UTU yang diinisiasi oleh Pengurus Dhama Wanita Persatuan (DWP UTU) telah mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan  masalah diet sampah ini dalam upaya menyelamatkan bumi. Salah satu program untuk mengurangi jumlah sampah yaitu dengan menerapkan program diet sampah, terutama pada sampah anorganik. “Program ini sudah kita lakukan dalam lingkup Kampus UTU”. Maka atas usaha nyata ini, UTU mendapat penghargaan dari Leader Academy Asia sebagai kampus yang menerapkan Program diet sampah dilingkungan UTU.

Ishalyadi mengutip penyampaian Koordinator Let's Do It Indonesia, Agustina menjelaskan penganugerahan ini diberikan atas penerapan program diet sampah di Kampus UTU. Program ini sangat bagus dan perlu kita dukung bersama. “Ke depan kita berharap akan muncul kampus dan lembaga-lembaga lain untuk menerapkan program diet sampah ini sebagai bentuk memelihara lingkungan agar tetap clean dan green”.

Ishalyadi yang juga Dosen FKM UTU menjelaskan, program ini didesaign dan dilaksanakan oleh teman-teman dosen melalui Dharma Wanita UTU dibawah koordinasi Ketua DWP UTU, Ardawalis Binti Abdurrahman (Isteri Rektor UTU, Prof. Jasman) dan mendapat dukungan penuh dari Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Dr. H. Jasman J. Ma'ruf, SE., MBA. Salah satu kebijakan rektor terkait program diet sampah adalah dengan mengeluarkan kebijakan melarang pengadaan dan distribusi air mineral kemasan plastik, diganti dengan pengadaan dispenser di setiap unit kerja dalam lingkup Universitas Teuku Umar. 

Ishalyadi menjelaskan, sejak Bulan April 2019, UTU lewat kebijakan rektor resmi melarang peredaran minuman air mineral kemasan. Sejak saat ini, setiap unit kerja telah disedikan dispenser dan galon isi ulang. Setiap karyawan dan dosen diminta untuk membawakan botol minuman masing-masing, sehingga sampah plastik dari kemasan air mineral tidak beredar lagi di kampus UTU. “Sampah plastik jenis itu sangat susah terurai yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Program ini bagian dari implementasi visi  sebagai sumber inspirasi dan referensi bagi dunia”.

Let`s Do It Indonesia adalah gerakan sosial  yang menyerukan partisipasi aktif kepada setiap warga Indonesia dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik melalui kegiatan pembersihan besar-besaran secara serentak di seluruh negeri. LDI didirikan untuk mendukung gerakan pembersihan yang sebelumnya telah dinisiasi oleh Let`s Do It World. (Muzakkir)

Lainnya :