UTU Ambil Peran Nyata Turunkan Angka Stunting sebagai Implementasi Kampus Merdeka
  • UTU News
  • 13. 07. 2021
  • 0
  • 702

BANDA ACEH-UTU|Berdasarkan data hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting berada pada 27,67 persen pada tahun 2019. Namun angka stunting tersebut masih dinilai, sebab WHO menuturkan bahwa angka stunting tidak boleh melebihi dari 20 angka persen.

Dikutip dari laman BKKN RI, berdasarkan data dari World Bank, angkatan kerja yang pada masa bayinya mengalami stunting mencapai 54%. Artinya, sebanyak 54% angkatan kerja saat ini adalah penyintas stunting. Hal inilah yang membuat stunting menjadi perhatian serius pemerintah saat ini. Pemerintah Indonesia menargetkan angka Stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Presiden RI, Joko Widodo menunjuk Kepala BKKBN, Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG. (K) menjadi Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting.

Dalam rangka membantu pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia, terkhusus di Provinsi Aceh, Universitas Teuku Umar mengambil peran untuk memerangi stunting di Aceh. Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA pada kegiatan Podcast Kampus di Harian Serambi Indonesia, di Aceh Besar, Senin (12/7/2021) mengatakan “Kalau kita melihat kabupaten/kota itu bervariasi, bahkan ada yang 60 persen. Jadi ini kekhawatiran yang cukup besar bagi kita, bagaimana kita menyiapkan anak-anak bangsa kita ke depan. Kita harus melawan stunting dengan semangat juang tinggi seperti Teuku Umar.

Merdeka Belajar Kampus Merdeka adalah kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Mendikbudristek RI) yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja.

“Dengan adanya Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini diharapkan para mahasiswa dan dosen dapat berinovasi secara nyata,”ungkap Prof Jasman.

Prof Jasman menambahkan, UTU melalui Program Kampus Merdeka mengambil peran untuk menurunkan angka stunting di Indonesia, karena UTU memiliki visi sebagai sumber inspirasi dan referensi dalam hal agro and marine industry, maka kita akan mulai dengan pengembangan dan hilirisasi obat-obat herbal yang berasal dari tanaman dan hasil perikanan, semisalnya teh daun kelor yang menurut riset dapat bermanfaat untuk mencukupi gizi ibu menyusui dan banyak manfaat lainnya bagi tubuh.

“Kita negara agraris maritim, mari kita buktikan kalau negara kita adalah negara agraris. Banyak kita juga melakukan riset di bidang-bidang yang berkaitan dengan kemaritiman. Dengan kita mengembangkan kajian-kajian, riset-riset maka hasil itu dapat juga kita sumbangkan ke dunia. Kita tidak hanya membudidaya ikan, tapi juga mengekstraknya menjadi makanan, nutrisi dan apa saja,” jelasnya.

“Kita tidak hanya berbicara mengenai buah-buahan kemudian hasil tumbuhan, tanaman tapi juga bagaimana menurunkannya, mengekstraknya itu yang lebih bermakna,” tutupnya.

 

Lainnya :