Sepenggal Asa Dari Simeulue,
  • UTU News
  • 02. 07. 2019
  • 0
  • 160

Sepenggal Asa Dari Simeulue, “The Island of Paradise”  (Bagian Satu Dari Dua Tulisan)

 Oleh: Ishak Hasan

Simeulue merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat tahun 1999, kini terus berbenah dan semakin terpesona. Cerita tentang eksotisme Simeulue memang tidak akan pernah habis untuk ditulis. Pulau ini bagaikan sekeping tanah surga yang jatuh di Samudera Hindia. Sebuah kabupaten paling barat Provinsi Aceh yang terapung-apung di samudera lepas. Demikian perumpamaan tentang pulau ini terucap dari Bapak Sekda Kabupaten Simeulue ketika beliau menyambut Pembukaan Rapat Kerja Universitas Teuku Umar (UTU) tanggal 9 Februari 2019 lalu di Kota Sinabang, ibukota Kabupaten Simeulue. Ini merupakan kunjungan saya yang ketiga kalinya ke Simeulue setelah akhir tahun 2012. Ketika itu saya dipercayakan oleh Universitas Almuslim, Kabupaten Bireuen, Aceh untuk membantu guru-guru Sekolah Dasar di Simeulue dalam rangka peningkatkan kualifikasi mereka ke jenjang strata satu dalam sebuah Program Nasional Pendidikan Guru Dalam Jabatan bersama-sama dengan Universitas Syiah Kuala. Walaupun program tersebut kemudian dilanjutkan oleh Universitas Syiah Kuala.

Kunjungan saya kali ini memang tidaklah biasa, penuh makna. Bukan saja karena bertepatan dengan Rapat Kerja UTU, atau juga bukan karena terpesona dengan keindahan alam Simeulue yang masih asri  bagaikan untaian zamrud dari surga firdaus bersama keceriaan teman-teman dari  UTU. Bukan juga karena nikmatnya lobster Simeulue, tetapi lebih kepada sepotong perasaan yang bercampur dan diaduk-aduk oleh angin laut penuh cinta dan kenangan.  Mungkin yang terakhir inilah yang memantik saya untuk menulis artikel kecil ini. Setelah santap malam di Aula Sekdakab Simeulue Sabtu malam 9 Februari 2019 yang dimanjakan dengan menu khas lobster Simeulue, saya hampir berat untuk bangun pagi. Lantunan azan shubuh yang syahdu di dekat hotel kami menginap membuat hati saya luluh. Saya buka mata yang walau agak berat, sembari menggulung selimut lalu berwudhuk dan menunaikan shalat. Beberapa saat saya buka jendela, suasana pagi yang cerah mulai merangkak, sejauh mata memandang gumpalan awan putih di seberang hotel mulai menampakkan auranya.

Sambil menatap permukaan air yang tenang dan alam sekitar yang masih perawan, serasa saya berada di atas sebuah laguna yang teduh tanpa gemuruh ombak. Sungguh sangat cocok untuk pasangan muda mudi yang baru memasuki gerbang manisnya cinta. Tidaklah salah kalau saya memberi jawaban jika ada orang bertanya di mana tempatnya yang teramat manis sebagai cawan pemuas happy ending-nya bulan madu, tentu saya merekomnya di Simeulue adalah  ‘the Island of paradise’ (pulau surga) ini. Jawaban saya itu tentu sangat beralasan, mengingat ketika saya mau meninggalkan Simeulue dengan Wings Air menuju Kualanamu Medan, di ruang tunggu Bandar Udara Lasikin ada sepasang insan paruh baya asal Negeri Jepang yang juga sedang menunggu pesawat landing sempat saya tanyakan. Kebetulan mereka berdua bisa berbahasa Indonesia walau belum begitu lancar mengakui mereka memang sangat mengagumi dan takjub dengan kemolekan alam Simeulue. Banyak spot indah yang belum habis untuk dinikmati, hamparan pasir putih berkilauan diterpa cahaya matahari, lekuk-lekuk pantai dipenuhi hutan magrove, juntaian daun pandan laut, dan vegetasi pesisir lainnya serasa lupa ke kampung halaman yang penuh dengan rutinitas membosankan. Panorama alam yang sangat menakjubkan ini menurut mereka dan juga saya rasakan sendiri yang sudah pernah saya kunjungi bisa mengalahkan Bali, Lombok, Labuhan Bajo, Tanjung Pandan, Langkawi bahkan keindahan gunung kars di Raja Ampat. Katanya tahun depan ia akan kembali lagi ke Simeulue.

Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, bukan saja terkenal dengan alamnya yang indah. Keunikan budaya, dan bahasanya yang khas juga menjadi daya tarik tersendiri apabila bisa dikemas dengan sungguh-sungguh lewat event yang menarik. Debus Simeulue pertanda lambang keberanian masyarakat di daerah ini. Sebagaimana masyarakat Aceh lainnya, penduduk Simeulue adalah sebuah komunitas muslim yang taat. Ketaatan pada ajaran Islam tidaklah menjadikan masyarakat Simeulue sebagai sebuah masyarakat tertutup. Terbukti mereka bisa menerima banyak tamu wisatawan asing setiap saat, walau  tidak sejalan dengan ajaran Islam yang mereka praktekkan sehari-hari. Nilai-nilai Islam yang mereka anut juga tidak mudah luntur akibat pengaruh luar dari gaya hidup wisatawan. Inilah yang diharapkan bahwa daya tahan nilai dan budaya setempat sebagai keunikan tetap dipertahankan walau sektor turisme ini berkembang dengan pesat.

Kulihat Simeulu bagaikan menatap sesosok gadis cantik yang terus mempesona. Bermandikan cahaya bulan di ujung sebuah dermaga tua. Tatapan saya pada Simeulue kali ini memang berbeda dengan Simuelue lebih dari lima tahun yang lalu. Kalaulah saya masih diberi kesempatan untuk boleh memanjakan diri lagi agar bisa kembali menjadi muda, tentu saya akan tetap memilih hidup selaras alam sambil menyantap lezatnya lobster, menikmati damainya hati, dan ketika matahari mulai merekah ku peluk erat di pinggang Pulau Simeulue.        

Dr. Ishak Hasan, M.Si adalah Dosen Unsyiah ditugaskan Sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan-Universitas Teuku Umar. Email: ishakhasan20@yahoo.com

Lainnya :