Menteri Agraria Sofyan A. Jalili,
  • UTU News
  • 18. 02. 2019
  • 0
  • 336

MEULABOH – “Mulai tahun 2019 ini, anggaran APBN difokuskan paling besar untuk kepentingan Sumber Daya Manusia (SDM). Insya Allah dalam tahun-tahun berikutnya, dalam perencanaan yang sudah kami kerjakan di Bappenas sebelumnya. Insya Allah, pengembangan SDM akan lebih fokus oleh Presiden”, ujar Sofyan A. Jalil.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional-RI, Dr. Sofyan A. Jalil, SH.,MA.,M.ALD menyatakan hal itu ketika memberi kuliah umum kepada dosen dan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU), di Aula Utama UTU, 15 Februari 2019. Kuliah umum Sofyan A. Jalil yang bertema, “Kesiapan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, juga dihadiri Danrem 012/TU, Kapolres Aceh Barat, para Wakil Rektor, para dekan, para ketua program, dosen dan mahasiswa. Moderator kuliah umum Sofyan A. Jalil yang dilanjutkan dialog dengan mahasiswa adalah Rektor  Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA.

“Ini kesempatan emas, kesemapatan yang sangat berharga sekali bagi kita semua mengikuti kuliah umum Pak Menteri Sofyan A.Jalil”. Sofyan A. Jalil antara lain mengatakan, tiga hal yang harus diselesaikan agar Indonesia menjadi negara maju. Pertama; insfrastruktur. Kalau tidak ada insfrastruktur Indonesia tidak akan jadi tempat investasi. Alhamdilillah, kebutuhan minimum insfrastruktur negara kita sudah sangat lumayan. “Kebutuhan minimum Universitas Teuku Umar, harus ada fakultas, harus miliki labor dan lain-lain. Untuk itu, infrastruktur harus diselesaikan,  insfrastruktur baik, investasi bisa datang, proses penciptaan lapangan kerja lancar, ekspor akan meningkat, biaya logistik akan berkurang, pajak meningkat, dan Universitas Teuku Umar bisa kita bangun. Listrik lancar dan tidak padam-padam lagi itu merupakan bagian dari bagusnya insfrastruktur”, ujar Sofyan A. Jalil.

Kedua; pengembangan SDM manusia yang kompeten, yang memiliki skill, dan yang mampu bersaing. Oleh sebab itu, mulai tahun 2019 ini,  anggaran APBN akan difokuskan paling besar adalah untuk kepentingan SDM. Insya Allah dalam tahun-tahun berikutnya, dalam perencanaan yang sudah kami kerjakan di Bappenas, pengembangan SDM akan lebih fokus. Ketiga; adalah penegakan hukum dan governance. Kalau ketiga hal ini bisa diselesaikan, Insya Allah, Indonesia menurut perkiraan akan menjadi negara ke-4 di dunia pada tahun 2030, setelah China, India dan Amerika Serikat.

Untuk itu, adik-adik mahasiswa jangan pernah pesimis terhadap negara ini. Insya Allah, yakinlah Indoensia akan jauh lebih baik dari sekarang. Hari ini kita sedang berada di era digital. Industri sudah melawati 4 tahap. Tahap pertama adalah industry diwaktu mesin uap ditemukan. Tahap kedua adalah  revolusi industry produksi massal. Tahap ketiga adalah revolusi 3.0 adalah penggunaan elektronik dan teknologi informasi. Sekarang memasuki revolusi ke 4  (revolusi industry 4.0) dimana revolusi industri mulai berkembang yaitu digital. Kemajuan industri digital makin banyak tantangan ke depan, karena lebih banyak  pekerjaan yang menggunakan tenaga manusia hilang, namun akan semakin banyak pekerjaan yang akan lahir. “50 persen anak-anak kita yang lahir hari ini, nanti mereka akan bekerja dalam industry yang belum ada hari ini. Di Amerika Serikat,  tahun 2025, sebanyak 46 persen jenis pekerjaan yang ada hari ini akan hilang. Apa pekerjaan yang akan hilang seperti pekerjaan wartawan media cetak, bahkan televisi-pun akan terancam.

Dalam kesempatan itu, Sofyan A. Jalil menegaskan sejak dirinya menjadi Menteri, salah satu tujuan pertama yang dilakukan adalah membuat sertifikat tanah sebanyak-banyaknya. Tahun 2025, seluruh tanah harus sudah bersertifikat. Begitu bersertifikat, maka konflik tidak ada lagi. Dan yang masih terjadi konflik akan kita selesaikan. “Pemerintah sangat serius untuk menyelesaikan sengketa-sengketa pertanahan”, tegas Sofyan A. Jalil.

Sebelum menyampaikan kuliah umum, Menteri Agraria Sofyan A. Jalil, juga sempat ke lokasi pembangunan Gedung perkuliahan terintegrasi yang sedang dalam proses pengerjaannya. Pembangunan Gedung perkuliahan terintegrasi itu, alokasi dananya bersumber dari Surat Syariah Berharga (SBSN) senilai Rp. 74.2  Miliar, dengan rincian alokasi Rp. 67.1 Miliar untuk pembangunan Gedung perkuliahan, Rp 1.18 Milyar untuk manajemen konstruksi, dan Rp. 6 Miliar untuk peralatan  gedung. (Zakir)

Lainnya :