• UTU News
  • 02. 07. 2019
  • 0
  • 510

 “Hikayat Cengkeh dan Lezatnya Lobster” (Bagian Ke-2 Habis)

Oleh: Ishak Hasan

Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, bukan saja terkenal dengan alamnya yang indah. Harta karun yang tersimpan  di dalam laut Simeulu seperti Lobster dan berbagai makanan seafood lainnya sudah lama menjadi incaran para pengejar kepuasan. Tidak heran Ibu Susi Pudjiastuti Menteri Perikanan dan Kelautan Indonesia juga melakukan budidaya Lobster di daerah ini. Jenis Lobster Simeuelue termasuk salah satu yang berkualitas super di dunia. Belum lagi ketika saya menatap kaki-kaki bukit sepanjang perjalanan masih terasa aroma kejayaan Simeulue dengan komoditas cengkehnya. Cerita cengkeh di masa silam bagi pulau ini menyimpan suka dukanya. Ketika itu cengkeh jadi primadona pendapatan masyarakat di pulau ini, bahkan orangtua saya dulu pernah ikut ambil bagian membawa berbagai barang dagangan ke daerah ini, itu pertanda bahwa di masa sekitar tahun 70-an hingga 80-an uang banyak mengalir di pulau ini. Pedagang hanya  bisa hidup di mana uang mengalir.  Demikian kata ayah saya ketika saya masih SMA dulu.  Kejayaan cengkeh masa lalu yang telah banyak mengangkat kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Simeulue kini hanya menyimpan kenangan. Onggokan tanaman cengkeh di kaki bukit sejauh mata memandang kini mulai meranggas dimakan usia, dan kini telah menjadi sepenggal sejarah kejayaan di masa lalu.    

Minggu pagi, 10 Februari 2019 adalah hari yang indah, namun sedikit melelahkan. Bersama teman dari UTU, setelah makan siang yang tidak sesuai dengan jadwal biasa. Jarum jam menunjukkan 15.35 kami berencana untuk melanjutkan perjalanan menyusuri trans lingkar Simeulu. Sayang, miskinnya referensi tentang medan dan jarak tempuh jalan trans Simeulue ini tidaklah cukup akurat menuntun kami sebagai sebuah perjalanan yang menyenangkan. Padahal dalam mobil yang saya tumpangi ini ada dua orang Profesor yang mengikutinya. Mereka berdua adalah dekan baru di UTU, Profesor M. Ali Sarong dan Prof. Darmawi. Awalnya saya sedikit lega mengingat rombongan mobil Rektor UTU juga ikut bersama kami menyisir wilayah pantai barat trans Simeulue ini. Karena jaringan telekomunikasi di beberapa tempat tidak lancar, akhirnya komunikasi di antara kami terputus. Info terakhir yang kami dapat mereka memutuskan untuk balik arah kembali ke Kota Sinabang. Tetapi kami sudah duluan di depan lebih dari dua jam perjalanan, rupanya mereka singgah di Putrajaya tempat penangkaran dan budidaya penyu. Pemandangan alam yang indah di sepanjang perjalanan sesekali juga disuguhkan dengan kawanan kerbau Simeulue yang berkeliaran di alam liar sungguh kenangan yang tidak bisa dilupakan.

Dengan semangat yang membaja dibarengi dengan keingintahuan yang tinggi kami berkesimpulan melanjutkan perjalanan melintasi medan yang amat berat, jalan yang penuh lubang, mendaki dan menuruni tebing, akan tetapi karena  sesekali diselingi oleh spot pesisir pantai yang teramat indah dan alami sulit dirangkai dengan kata-kata,  serasa belum ada sentuhan manusia, lelah dan penat yang lebih kurang 7 jam perjalanan kami rasakan terbayar juga. Setelah melewati beberapa wilayah yang dalam alam pikir saya sebagai negeri impian sejak dulu telah hadir di depan mata. Mengingat ada beberapa teman saya yang terlahir dari wilayah ini yang dulu dilabel sebagai daerah terpencil di Aceh, mulai dari Tepah Selatan, Kampung Ayer, Salang, Alafan, Sibigo ibukota Simeulue Barat  dan Teluk Dalam. Bagi saya wilayah-walayah ini menyimpan banyak cerita dari teman-teman lama saya ketika masih masih kuliah bersama di Unsyiah, bagaikan mendengar sepenggal cerita wayang atau hikayat, sekarang telah menjadi kenyataan.  Akhirnya sekitar jam 22.30 lebih sampailah kami di Kota Sinabang.

Ketika memori  perjalanan tersebut saya putar kembali ada beberapa catatan penting yang perlu untuk dibagi kepada publik. Di antaranya adalah betapa perlu percepatan perbaikan kualitas jalan yang panjangnya lebih dari 100 kilometer belum beraspal, mengingat jalan adalah urat nadi utama ekonomi masyarakat. Perbaikan dan jaringan komunikasi yang lebih merata antar kecamatan dan antar desa di dalam wilayah ini. Perlunya pemberdayaan secara optimal sumberdaya ekonomi pesisir yang masih potensial untuk dikembangkan. Selain itu perlunya dibuat penunjuk arah jalan di setiap persimpangan mengingat semakin banyak wisatawan yang berminat menghabiskan masa liburnya di Pulau ini. Bagi saya pulau ini lebih dari hanya sekedar bisa menjadi magnit atau sumur pendingin ketika hati dirundung duka. Potensi sumberdaya ekonomi yang luar biasa seperti sumberdaya pesisir yang kaya, wisata alam, wisata bahari, kekayaan vegetasi juga bisa menjadi pendongkrak ekonomi yang memiliki prospek menjanjikan di masa depan. Selamat tinggal Simeulue eksotisme mu memikatkan ku untuk segera kembali.                                    

Dr. Ishak Hasan, M. Si adalah  Dosen Unsyiah di tugaskan Sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan-Universitas Teuku Umar. Email: ishakhasan20@yahoo.com

 

Lainnya :