FP-UTU Membangun  Integrated Farming Model Dalam Upaya Mengembangkan Kebun Edukasi
  • Fakultas Pertanian
  • 10. 04. 2019
  • 0
  • 449
Meulaboh - Rektor UTU Prof. Jasman J. Ma’ruf, MBA. dan Dekan Fakultas Pertanian Ir. Yuliatul Muslimah, M.P. serta dihadiri oleh seluruh Warek dan Dekan Lingkup UTU melaksanakan penanaman perdana dalam upaya mengembangkan kebun edukasi. Beberapa model yang diterapkan untuk tahap pertama yaitu Intercroping (Jagung dan kacang tanah) serta agrofishery (padi sawah dan ikan) kemudian ditambah dengan ternak yang sedang direncanakan.
 
Rektor UTU, Jasman J.Ma’ruf dalam kata sambutanya  menyampaikan bahwa kebun edukasi tersebut harus menjadi Inspirasi bagi lingkungan internal UTU dan masyarakat petani serta kedepannya mampu menghasilkan banyak Karya Ilmiah melalui kebun edukasi ini yang mampu bersaing  ditingkat Regional, Nasional, dan Internasional.
 
Sementara Dekan Fakultas Pertanian UTU berharap selain menjadi model pembelajaran lapangan, juga dapat menjadi lahan bagi berwirausaha Mahasiswa dan akan menjadi produk-produk organik yang ramah lingkungan.
 
Dekan Fakultas Pertanian selanjutnya memaparkan terkait kebun edukasi dengan model integrated farming ini sudah tidak asing lagi didunia pertanian namun ini menjadi sebuah jawaban untuk kemandirian pangan yang sehat. Dunia pertanian pada saat ini terus bergantung pada biaya input kimia sintetik yang tinggi dan tidak sehat seperti pupuk dan pestisida dibaringi dengan pendapatan yang rendah. Masyarakat pertanian pada saat ini identik dengan kemiskinan dan lingkungan tidak sehat sehingga kesadaran tersebut memeberikan pengaruh pada isu lingkungan sehat atau ramah lingkungan dan kesejahteraan pertanian. Lingkungan sehat dan Kesejahteraan pertanian ini bisa tercapai dikarenakan Integrated Farming ini berbasis Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA) yang mana semua system terintegrasi mulai dari pakan ternak yang tersedia dari biomasa tanaman pertanian, pakan ikan dan unsur hara tanaman bersumber dari kotoran ternak, sehingga kebutuhan setiap spesies dalam sebuah ekosistem dapat terpenuhi dari Internal input tidak dari eksternal input yang tidak membutuhkan biaya tinggi dan tidak torkontaminasi oleh bahan kimia.
 
Diakhir penyampaiannya Dekan Fakultas pertanian mengatakan Integrated Farming memiliki efek jangka panjang yang berkelanjutan dimana akan terbentuk sebuah ekosistem alami yang seimbang dan akan terus berjalan dengan sendirinya. Pabrik pupuk alami akan terus diproduksi oleh bakteri pengurai sepanjang tahun, perlindungan tanaman akan terus terjaga sepanjang tahun karena terjadi keseimabangan antara jumlah hama penyakit dan musuh alami. (Amd)

Lainnya :