Dr. Alfizar dan Zulfirman Bahani CPNS Universitas Teuku Umar
  • UTU News
  • 13. 06. 2019
  • 0
  • 467

MEULABOH – Wakil Rektor I Bidang Akademik-Universitas Teuku Umar (UTU), Dr. Ir. Alfizar, DAA mendorong dosen UTU untuk berpacu meningkatkan kuaitas tridharma perguruan tinggi dalam hal mengajar, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, Kepala Bagian Keuangan, Zulfirman, SE.,M.Si juga menyampaikan hal-hal teknis tentang keuangan bagi dosen dan tenaga kependidikan UTU.

Dr. Alfizar dan Zulfirman menyampaikan hal itu ketika memberikan materi pada ‘Orientasi dan Pembekalan Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun Anggaran 2018, di Aula Utama UTU, 12 Juni 2019. Orientasi dan Pembekalan CPNS UTU sebanyak 92 orang itu, dipandu oleh Inseun Yuri Salena, M.Sc (Wakil Dekan II Fakultas Teknik) dilanjutkan dengan Tanya jawab dengan CPNS

“Anda sebagai dosen yang masih baru, harus kreatif dan penuh semangat dalam meningkatkan kualitas tridharma pergurun tinggi, dan perlu terus berupaya mengejar   jenjang kepangkatan dosen, mulai pangkat asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar”, ujar Dr. Alfizar

Dosen tidak hanya mengajar, tetapi penelitian dan pengabdian juga menjadi tugas utama dosen sesuai dengan tridharma perguruan tinggi. Untuk itu, dosen harus berpacu dalam melakukan peneliian dan pengabdian.  Namun,  pengabdian itu tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik apalagi ketika menghadapi masyarakat yang karakternya berbeda.

“Ketika dosen bertemu dengan masyarakat yang mental masyarakatnya  sudah ‘diracuni’ dan sudah sering ‘dimanjakan’ dengan uang oleh pihak-pihak tertentu selama ini, tentunya agak susah dan menjadi kendala bagi dosen dalam melakukan pengabdian. Kadang begitu ketemu masyarakat, langsung soal uang yang ditanyakan”,  ujar Dr. Alfizar memberi gambaran kepada dosen-dosen baru yang belum pernah melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Dr. Alfizar, langkah yang harus ditempuh sebelum melakukan pengabdian, seorang dosen perlu mengevaluasi lebih dahulu keberadaan desa tempat dimana melakukan pengabdian, sehingga dosen dapat memahami kondisi dan ketrampilan masyarakat di desa tersebut. Selain itu, amati dan lihat potensi desa, sehingga nantinya kehadiran Anda ditengah-tengah masyarakat untuk melakukan pengabdian,  benar-benar dapat dirasakan manfaatnya.

Demikian halnya dengan lingkungan mengajar yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran. “Kalau nanti ketika Anda mengajar, lalu menemukan mahasiswa yang karakternya kurang bagus, itu juga menjadi tugas dosen untuk membimbing dan  merangkulnya dengan baik. Intinya, dosen itu harus mampu merubah yang jelek menjadi baik”, begitu antara lain Dr. Alfizar mengingatkan dosen.

Untuk itu, Dr. Alfizar mengharapkan kepada dosen UTU, terutama yang masih baru bertugas, hendaknya mampu menciptakan suasana atau iklim proses belajar mengajar itu lebih baik dan nyaman. Caranya, antara lain, materi yang disajikan itu harus menarik, dan presentasi juga harus menarik, dan perlu juga diselingi sedikit humor dalam batas-batas keilmuan dan etika, sehingga mahasiswa itu tidak bosan dan suasana belajar itu tetap ‘hidup’ dan bersemangat.

Dalam kesempatan itu, Dr. Alfizar juga menyampaikan, pihaknya bersama jajarannya akan berusaha mengundang narasumber untuk melatih dosen-dosen baru bagaimana cara mengajar yang baik apalagi CPNS dosen itu belum pernah dijar metode pembelajaran didaktik dan  metodik.

Kabag Keuangan Zulfirman

Sementara itu, pada sesi terakhir Zulfirman, SE.,M.Si menyampaikan materi tentang teknis keuangan kepada CPNS dalam mengikuti pembekalan. Zulfirman antara lain menjelaskan terkait dengan gaji dan pemberian tunjangan kepada ASN- PNS. Mengenai pemberian tunjungan diluar gaji pokok untuk anak dibatasi sampai umur anak  21 tahun. “Pemberian tunjangan kepada anak masih bisa dibatasi sampai si anak itu berumur  25 tahun, kalau si anak tersebut masih dalam studi yang dapat dibutikan dengan surat keterangan aktif dan tidak dalam memperoleh beasiswa dari instansi manapun”, tegas Zulfirman.

Kalau dalam melanjutkan studi, ternyata si anak tersebut juga mendapatkan beasiswa dari salah satu instansi, secara aturan kepada anak tersebut tidak diberikan lagi tunjungan negara (dihentikan). “Orangtua perlu kejujuran dan segera melaporkan anaknya yang telah mendapatkan beasiswa dari tempat lain. Kalau orantua tidak melaporkan, dan terus mengambil tunjangan untuk anaknya yang telah mendapatkan beasiswa dari pihak lain, secara agama tidak halal lagi menikmati tunjangan negara tersebut”, begitu Zulfirman menegaskan sesuai dengan aturan yang ada. (***)      

Lainnya :